PIONERNEWS.COM, MEDAN – Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Medan (Unimed), Dr Bakhrul Khair Amal, menyatakan bahwa, apresiasi dari Mendagri Tito Karnavian dan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait, ke Bupati Gus Irawan Pasaribu, telah meruntuhkan stigma Tapsel yang selama ini diplesetkan menjadi ‘tak pernah selesai’.
Menurutnya, komunikasi politik yang kuat dan transparansi atas penyerahan 120 kunci hunian tetap (Huntap) ke warga terdampak bencana di Desa Hapesong, Kecamatan Batang Toru, pada pekan lalu ini, dinilai menjadi kunci utama Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) Gus Irawan Pasaribu, diapresiasi oleh dua Menteri sekaligus.
“Pujian yang diberikan Menteri ke Gus Irawan Pasaribu meruntuhkan stigma Tapsel selama ini yang identik dengan tak pernah selesai, terbantahkan dengan kerja cepat dalam penanganan bencana,” tegas Bakhrul dalam rilis yang diterima awak media, Selasa (31/03/2026).
Sebelumnya, Mendagri memuji langkah cepat Pemkab Tapsel dan meminta daerah lain yang terdampak bencana meniru langkah Gus Irawan agar semua proses bantuan bisa dilakukan dengan cepat dan tepat. Menteri PKP juga mengapresiasi proses tanggap darurat Pemkab Tapsel hingga pembangunan kembali infrastruktur di daerah itu dapat berjalan maksimal.
“Menteri Ara (Maruarar Sirait) juga memfasilitasi agar Yayasan Tzu Chi Indonesia bersedia turun tangan memberikan bantuan pembangunan rumah di Tapsel,” terang Bakhrul.
Kata Bakhrul kecekatan Pemkab Tapsel dalam menangani bencana, sangat wajar mendapat apresiasi. Terlebih, bukan hanya Menteri yang datang meninjau langsung dampak bencana di Tapsel, Presiden Prabowo Subianto, bahkan rela bermalam di Tapsel mengikuti pergantian tahun, guna menghibur para korban.
Dari kecepatan penanganan bencana ini, Bakhrul menilai Tapsel di bawah kepemimpinan Gus Irawan saat ini sudah bisa meruntuhkan stima negatif lama yang menyebut singkatan Tapsel adalah tak pernah selesai. Dengan gerak cepat, Pemkab Tapsel kini membuat semua persoalan kebencanaan menjadi lebih cepat penanganannya dan tepat sasaran.
Dia mengatakan, dalam penanganan bencana ini, Pemkab Tapsel punya prestasi lebih awal dibanding beberapa Kabupaten lain. Tapsel punya konsep transparansi dan akuntabilitas tinggi, penempatan bantuan bencana berdasarkan data valid, serta usulan dan pemakaian bencana sesuai fakta maupun data lapangan yang konkrit.
Bakhrul menegaskan, Pemkab Tapsel dinilai berprestasi bukan tanpa alasan. Hal ini sudah berdasarkan alat ukur dan parameter yang disajikan seperti terlihat dari akuntabilitas serta efektivitasnya. Di mana, Pemkab Tapsel bekerja tidak saja seremonial, tapi berbasis kinerja.
“Penanganan bencana dari tahap awal sudah mendapat apresiasi tinggi karena semua bergerak cepat. Stigma negatif yang selama ini menempel terkikis oleh kinerja pemerintah daerah. Good will dan political will Bupati Tapsel cukup kuat mendorong penanganan bencana lebih cepat di daerah terdampak,” tandasnya.
Senada disampaikan Ketua Program Studi Ilmu Politik Fisipol Universitas Sumatera Utara (USU), Indra Fauzan, yang mendetilkan analisisnya atas apresiasi yang diberikan pemerintah pusat ke Pemkab Tapsel. Menurut Indra, dalam komunikasi politik, pernyataan Mendagri dan Menteri PKP ke Pemkab Tapsel bukan saja sekadar pujian.
“Tapi itu juga sinyal ke daerah lain yang terdampak bencana agar lebih cekatan dan kreatif dalam menyelesaikan program pasca bencana,” cetusnya.
Indra menerangkan, statement Menteri itu menunjukkan, bagaimanapun situasinya pemerintah daerah tidak boleh mengeluh dan menunggu bantuan dari pusat saja. Pemerintah daerah harus berbuat dan memastikan apa yang bisa dilakukan sejak bencana muncul.
“Karena, warga terdampak butuh kepastian,” kata Indra.
Dalam kacamata politik, sambungnya, apabila selevel Menteri memberikan pujian bukan berarti sekedar kagum saja dengan kinerja, tetapi juga bagian dari ultimatum kepada Kepala Daerah lain untuk berbenah serta bekerja lebih keras lagi untuk memenuhi tuntutan penanganan bencana. Karena, tekanan publik tidak hanya mengarah ke Kepala Daerah, tapi juga sampai ke Menteri.
Indra juga menilai, pola komunikasi terhadap kondisi penanganan bencana di Tapsel sudah lebih baik. Apalagi, musibah kali ini juga menjadi prioritas negara, walaupun statusnya bukan bencana nasional. Ia merasa pemerintah pusat juga cepat merespon, terbukti dengan seringnya digelar rapat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, agar penanganannya jadi lebih mudah.
Dia menyarankan, pemerintah daerah sudah harus menerapkan strategi tanggap bencana yang baik dan efektif. Indra juga menyarankan ke depan pemerintah daerah, agar kiranya memperhatikan proses penyusunan anggaran kebencanaan khusus, sehingga tidak saja mengandalkan badan penanggulangan bencana.
“Tapi sudah memiliki blue print penanganan serta koordinasi dengan pemerintah provinsi hingga pusat. Apalagi, saya kira siklus bencana ini akan berulang sehingga perlu manajemen yang baik dan terencana,” tegasnya.
Selain dengan pemerintah pusat, Indra melihat bangunan komunikasi yang dirancang pemkab Tapsel cukup cepat menyelesaikan bencana. Ia melihat, strategi komunikasi Pemkab Tapsel juga membuka peluang bekerjasama dengan NGO seperti, strategi pentahelix dengan melibatkan banyak elemen dan berkolaborasi dengan stakeholder.
“Sehingga, pengawasan dan manajemen kebencanaan bekerja cukup efektif hari ini,” pungkasnya menutup. (Rel/Reza FH)














