PIONERNEWS.COM, TAPANULI SELATAN – Meski sekitar 3.000 Ha sawah gagal panen akibat bencana 25 November 2025 lalu, Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel), Gus Irawan Pasaribu, tetap optimistis target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tidak perlu direvisi.
Berbagai terobosan peningkatan produktivitas pertanian disiapkan oleh Pemkab Tapsel untuk menutup kehilangan produksi dan menjaga pertumbuhan ekonomi.
Penegasan tersebut disampaikan Bupati saat menghadiri kegiatan tanam bersama bantuan demplot cabai dari Bank Indonesia Sibolga seluas setengah Ha atau 7.500 batang di Desa Sialaman, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapsel, Selasa (03/03/2026).
Bantuan yang berasal dari klaster 2025 itu disalurkan kepada Kelompok Tani Dolok Marombun dengan varietas cabai F1 Hybrida Fulo produksi Bintang Asia. Bibit tersebut telah melalui masa pembibitan selama empat minggu sebelum ditanam di lahan demplot.
Dalam kesempatan itu, Bupati mengungkapkan, akibat bencana 25 November lalu lebih dari 3.000 Ha sawah mengalami gagal panen dengan rata-rata produksi 5,5 Ton per Ha. Artinya, Tapsel kehilangan sekitar 16.500 Ton gabah.
“Kalau kita kehilangan tiga ribu Ha dengan rata-rata 5,5 Ton per Ha, berarti kita kehilangan sekitar 16.500 Ton gabah. Ini tentu berdampak dalam terhadap PDRB kita,” ujar Bupati.
Ia menjelaskan, sektor pertanian menyumbang sekitar 43 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Tapsel. Kehilangan produksi dalam jumlah besar tentu memberikan tekanan signifikan terhadap perekonomian daerah.
Meski demikian, pemerintah daerah tidak tinggal diam. Selain membangun 2.038 unit rumah sesuai kriteria Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pemkab Tapsel juga menyadari, jumlah warga terdampak secara ekonomi jauh lebih besar.
“Khususnya warga yang lahannya rusak, meski rumahnya tidak terdampak langsung,” jelas Bupati.
Untuk itu, Bupati meminta Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan kajian mendalam terhadap dampak bencana terhadap indikator makro ekonomi daerah. Hasil kajian tersebut akan menjadi dasar evaluasi kebijakan dan perumusan langkah strategis ke depan.
“Saya bukan orang yang mudah menyerah. Hasil studi itu kita jadikan titik awal untuk melakukan berbagai terobosan dengan kerja keras dan kerja cerdas untuk menutupi potensi penurunan,” tegasnya.
Salah satu terobosan yang didorong adalah peningkatan produktivitas padi melalui penggunaan varietas unggul Gamagora, hasil pengembangan Universitas Gadjah Mada. Varietas yang berasal dari kata ‘Gama’ dan ‘Gogo Rancah’ ini dinilai cocok untuk lahan tadah hujan.
“Selain itu, varietas ini juga mampu menghasilkan hingga 9,6 Ton per Ha dalam masa tanam sekitar 90 hari,” sebut Gus Irawan.
Bupati memperkirakan, apabila terjadi peningkatan produktivitas sekitar empat Ton per Ha, maka diperlukan sedikitnya 5.000 Ha lahan untuk menutup kehilangan produksi 16.500 Ton akibat bencana.
“Kalau belum bisa 5.000 Ha, minimal 4.000 Ha dalu kita kejar,” ucapnya optimis.
Selain fokus pada padi, Bupati juga mendorong pemanfaatan lahan-lahan menganggur untuk komoditas hortikultura seperti timun dan cabai. Upaya ini sekaligus diarahkan untuk mendukung kebutuhan dapur program makan bergizi gratis (MBG), sehingga manfaat ekonominya benar-benar dirasakan secara langsung.
Sementara itu, perwakilan Bank Indonesia Cabang Sibolga, Riza Putera, menekankan pentingnya penguatan sisi suplai komoditas, terutama cabai yang menjadi salah satu penyumbang inflasi tertinggi pada Desember 2025 pasca bencana.
Melalui demplot cabai tersebut, Bank Indonesia mendorong kelompok tani tidak hanya memahami teknik budidaya yang baik, tetapi juga aspek bisnisnya. Yang paling perlu, menurut Gus Irawan, suplainya dulu yang didorong.
“Ketika produksi sudah banyak, baru kita pikirkan hilirisasi seperti pengeringan atau pembuatan pasta. Yang penting barangnya harus ada dulu,” ungkapnya.
Dengan sinergi pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan, Bupati yakin pemulihan ekonomi Tapsel dapat dipercepat tanpa harus mengoreksi target-target pembangunan yang telah ditetapkan.
“Saya yakin, dengan kerja keras, kerja cerdas, dan dukungan semua pihak, kita bisa bangkit tanpa harus merevisi RPJMD. Ini demi kepentingan masyarakat Tapanuli Selatan,” pungkasnya. (Rel/Reza FH)












