PIONERNEWS.COM, TAPANULI SELATAN – Sebanyak 123 kepala keluarga (KK) warga Desa Panobasan Lombang, Kecamatan Angkola Barat, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), yang menjadi korban bencana, menempati hunian sementara (Huntara).
Warga korban bencana longsor ini, sudah dua pekan belakangan direlokasi di Huntara yang dibangun di lahan milik PTPN IV Desa Simatohir, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapsel.
Sebelumnya, mereka tinggal di rumah saudara bahkan ada yang mengontrak. Atas situasi itu, Gus Irawan Pasaribu, selaku kepala daerah di Kabupaten Tapsel datang membawa secercah harapan.
Mantan anggota DPR RI itu datang membawa bantuan dari Presiden RI, Prabowo Subianto, menjelang Lebaran Idul Fitri 1447 H ke penghuni Huntara di Desa Simatohir, Senin (16/03/2026).
Saat itu, ia menanyakan ke kaum ibu apa saja kebutuhan yang diperlukan selama di huntara. Ia menawarkan ke kaum ibu, apakah sampai saat ini masih ada yang kekurangan selimut atau kelambu, agar bisa istirahat dengan nyaman.
“Ini merupakan bantuan untuk para warga di Huntara Desa Simatohir yang kami bagikan menjelang Idul Fitri. Semoga, bermanfaat,” ucapnya.
Gus Irawan menjelaskan, Huntara Simatohir akan dilanjutkan pembangunannya menjadi hunian tetap (Huntap). Di tempat ini juga, sudah berdiri fasilitas sekolah dasar untuk kegiatan belajar anak-anak dari Desa Panobasan Lombang.
Ia juga menekankan kepada warga di Huntara Simatohir agar tetap menjaga kebersihannya. Termasuk larangan kepada warga untuk beternak jenis apapun. Menurutnya, ini sudah jadi kesepakatan bersama PTPN IV agar warga tidak berternak di lokasi ini.
“Sampah juga jangan dibuang sembarangan nanti menjadi sumber penyakit. Saya mohon pengertiannya,” pintanya.
Terpisah, salah seorang warga Desa Panobasan Lombang, Dalijaro Mendrofa, mengatakan, lokasi Huntara yang ditempatinya berada lebih jauh dari tempat mata pencaharian masyarakat. Di desa ini, mayoritas warga bertani hingga beternak.
“Masalah jangka panjangnya termasuk pertanian hingga peternakan, karena nanti Huntap di sini agak jauh dari kebun warga, bagaimana nanti solusinya ke depan? Sampai hari ini kami masih meraba-raba,” sebutnya.
Pria yang juga berpofesi sebagai Pendeta ini juga mengungkap, persoalan air selama dua pekan warga menghuni huntap. Memang ada tangki air yang disediakan, namun ketika keran dibuka, air sama sekali tidak mengalir.
“Air sampai hari ini belum masuk. Memang ada pemasangan pipa sementara untuk kebetuhan air bersih bagi warga,” cetusnya.
Dalijaro menanggapi pernyataan Bupati soal kesepatan larangan beternak bagi warga di Huntara Simatohir. Baginya itu bukan menjadi masalah. Sebab menurutnya, hal itu menjadi tanggungjawab penghuni Huntara untuk menjaga kebersihan bersama.
“Masih bisa beternak di kampung masing-masing jangan di Huntara ini. Lagi pula, sebagian besar warga sudah menjual hewan ternaknya dengan harga murah setelah bencana kemarin,” tutupnya. (Rel/Reza FH)















