Example floating
Example floating
BeritaDaerahPemkab TapselSumutTapanuli Selatan

Tapsel Termasuk Tercepat Tangani Bencana, Ribuan KK Sudah Tempati Hunian Layak

147
×

Tapsel Termasuk Tercepat Tangani Bencana, Ribuan KK Sudah Tempati Hunian Layak

Sebarkan artikel ini
Bupati Tapsel, Gus Irawan Pasaribu, saat menyalami ibu-ibu peserta pengajian akbar BKMT di Desa Huta Baru, Kecamatan Batang Toru
Bupati Tapsel, Gus Irawan Pasaribu, saat menyalami ibu-ibu peserta pengajian akbar BKMT di Desa Huta Baru, Kecamatan Batang Toru. (Foto: Ist)

PIONERNEWS.COM, TAPANULI SELATAN – Berkat kerja keras pemerintah daerah bekerja sama dengan TNI-Polri, berbagai lembaga, organisasi non pemerintahan (NGO) maupun seluruh masyarakat yang peduli, Pemkab Tapanuli Selatan (Tapsel) mendapat apresiasi sebagai salah satu daerah yang paling cepat dalam menangani bencana pada November 2025 silam.

Demikian dikatakan Bupati Tapsel, Gus Irawan, saat memberikan sambutan di hadapan ratusan jamaah pengajian akbar BKMT Desa Huta Baru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapsel, Kamis (16/04/2026).

Menurut Bupati, apresiasi ini, diukur dari berbagai hunian yang telah dihuni para korban bencana, baik yang bersifat sementara hingga 120 unit hunian tetap (Huntap) yang beberapa waktu lalu diresmikan oleh Mendagri, Tito Karnavian dan Menteri Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PKP) Maruarar Sirait.

“Selain itu, daerah kita juga yang tercepat dalam mendapatkan bantuan-bantuan untuk masyarakat terdampak bencana. Tapsel sejak Desember 2025, dana tunggu hunian (DTH) untuk para korban bencana itu sudah cair (Rp600 ribu per bulan),” ungkapnya.

Ia melanjut, pada Januari 2026, para keluarga korban bencana juga sudah mendapat santunan Rp15 juta per orang. Di bulan yang sama juga, sudah dicairkan dana stimulan perbaikan rumah rusak ringan sebesar Rp15 juta per unit dan Rp30 juta per unit untuk kategori rumah rusak sedang.

“Kemudian, di Februari 2026 para korban bencana mendapat bantuan dana isian rumah sebesar Rp3 juta dan dana stimulan untuk menggerakkan ekonomi mereka yang terkena musibah itu sebesar Rp5 juta sekaligus menerima kemudian bantuan senilai Rp8 juta,” tambahnya.

Selanjutnya, kata Gus Irawan, di awal Maret 2026, bantuan yang akhir juga sudah diterima oleh masyarakat yang berhak atau korban bencana berupa jaminan hidup (Jadup) sebesar Rp450 ribu/jiwa per bulan dan langsung dibayarkan oleh negara yakni, pemerintah pusat selama tiga bulan.

“Sehingga semua masyarakat kita yang terdampak bencana di Ramadan 1447 H kemarin, sebagian sudah mengisi hunian sementara. Dan tidak ada lagi di tenda pengungsian saat merayakan Idul Fitri. Total ada 2.034 KK yang berada di hunian lebih layak di hunian sementara atau mereka sudah menerima bantuan,” terangnya.

Meski begitu, Gus Irawan mengakui bahwa, persoalan pasca bencana ini tak terhenti hanya pada penanganan hunian semata. Masih ada tantangan yang besar, karena ribuan KK kehilangan masa depan dan mata pencaharian.

“Ini juga menjadi fikiran kami untuk bagaimana mereka bisa kembali hidup dan punya mata pencaharian untuk menghidupi keluarganya sehingga bisa menatap masa depan lebih baik,” akunya.

Untuk itu, Pemkab Tapsel saat ini sedang merancang rencana untuk memberi bantuan agar perekonomian warga terdampak bencana tetap berjalan. Untuk Desa Huta Baru sendiri, Gus Irawan mengaku mendapat laporan bahwa, ada irigasi yang rusak akibat bencana.

Diwaktu bersamaan, Pemkab Tapsel saat ini sedang menggencarkan program 1.000 kolam. Dan ia juga mendengar bahwa, di Desa Huta Baru banyak kolam yang ada ikannya. Tentu, menurut Gus Irawan, ini akan menjadi atensi Pemkab Tapsel.

Saat ini, sebutnya, ada pemulihan transfer pusat ke daerah (TKD) untuk penanganan pasca bencana di daerah terdampak. Jika bencananya tidak langsung terjadi di Desa Huta Baru, maka konteksnya adalah pemulihan ekonomi pasca bencana.

“Maka tadi saya dilaporkan Kepala Dinas Pertanian Tapsel, kita sudah alokasikan di sini nanti perbaikan irigasi supaya bisa mengaliri lebih kurang 12 Hektare sawah, agar bisa lebih optimal lagi (hasil panennya). Termasuk, untuk (perbaikan) kolam-kolam (ikan),” sebut Bupati.

Di Desa Huta Baru juga, pihaknya berencana membangun akses jalan usaha tani yang akan secepatnya direalisasikan. Harapannya, supaya masyarakat atau petani di Desa Huta Baru lebih lancar lagi dalam menjalankan usahanya.

“Terkait masalah air bersih, memang di sini kendala kita. Jika datang musim hujan, banyak air bahkan bisa banjir. Tapi, jika kemarau datang, kekurangan air. Jadi siap-siap kita, sudah diumumkan pemerintah bahwa, beberapa bulan ke depan akan terjadi kekeringan,” tuturnya.

Menanggapi situasi itu, bersama Dinas Pertanian Tapsel, pihaknya saat ini tengah mengembangkan bibit padi bernama, Gama Gora. Gama mengacu pada Universitas Gajah Mada penemu varietas padi ini. Sedangkan Gora itu berarti gogo (darat) rancah (air), jadi persilangan padi darat dan air, yang cocok untuk sawah yang airnya tidak terlalu banyak.

Dengan terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global, ia mengaku memang debit air di suatu daerah cenderung berkurang, terlebih pada musim kemarau. Karena kebanyakan padi di Tapsel panen sekali setahun. Kalau di Sipirok, ungkap Bupati, petani umumnya menanam padi jenis Silatihan yang panen setahun sekali karena sudah turun temurun varietasnya.

“Tapi, kalau Gama Gora harus dua kali setahun panennya. Karena Gama Gora ini, 80 hari atau tiga bulan sekali sudah bisa panen, cepat sekali. Maka, boleh lah kiranya diselingi dengan varietas Gama Gora padi kita di sini,” harapnya menutup. (Reza FH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *