Example floating
Example floating
BeritaDaerahSumutTapanuli Selatan

Membanggakan, Tapsel Dijadikan Pilot Project Pembiayaan Murah UMKM

170
×

Membanggakan, Tapsel Dijadikan Pilot Project Pembiayaan Murah UMKM

Sebarkan artikel ini
Bupati Tapsel H Gus Irawan Pasaribu dan Wakil Bupati H Jafar Syahbuddin Ritonga
Bupati Tapsel H Gus Irawan Pasaribu dan Wakil Bupati H Jafar Syahbuddin Ritonga. (Foto: Ist)

PIONERNEWS.COM, MEDAN – Gubernur Sumut (Gubsu), Bobby Nasution, pernah mengingatkan bank milik pemerintah daerah ini agar fokus pada dua hal penting yaitu, tidak terlalu mengandalkan APBD dan ASN (aparatur sipil negara). Dan kemudian, Gubsu pernah mengingatkan baru 7,7 persen usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang tersentuh bank.

Untuk mencapai semua itu, Pemkab Tapanuli Selatan (Tapsel) rencananya akan dijadikan pilot project kredit berbiaya murah untuk mendorong UMKM guna meningkatkan volume usaha. Hal itu disampaikan, Heru Mardiansyah, Direktur Utama (Dirut) Bank Sumut, kepada media di Medan, Jumat (17/04/2026).

Bank Sumut, kata Heru, kini tengah merancang berbagai sistem pendanaan dan pembiayaan yang kelak membantu berkembangnya pelaku ekonomi mikro, kecil dan menengah di Sumut. Dan, Pemkab Tapsel menjadi target utama melepas pelaku UMKM yang selama ini terjerat rentenir atau pembiayaan berbunga mahal ke yang lebih kompetitif.

Menurutnya, alasan Tapsel dijadikan pilot project pembiayaan kredit murah UMKM, karena daerah ini yang paling responsif bekerjasama dengan Bank Sumut. Termasuk, pengembangan cash management system (CMS) dan sempat juga sosialisasi pendanaan ke pelaku Koperasi Merah Putih di Tapsel.

Maka, bagi Heru, Tapsel termasuk yang paling potensial dijadikan pilot project karena pelaku UMKM selama ini memanfaatkan pembiayaan dari rentenir dan lembaga pembiayaan lain dengan bunga cukup tinggi. Selain itu, Tapsel juga baru mulai pulih dari bencana.

“Jadi ibu-ibu yang punya usaha dan habis disapu banjir harus kita bangkitkan lagi. Daripada mereka terjebak pinjaman bunga tinggi maka kita tawarkan sistem tanggung renteng atau grameen bank bersifat kelompok usaha,” katanya.

Heru yang sebelumnya pernah menjabat Kepala Divisi Dana dan Jasa di Bank Sumut ini juga mengatakan bahwa, di Tapsel timnya sudah turun melakukan kajian pembiayaan dan pendanaan. Bahkan, timnya sudah beberapa kali melakukan kegiatan di sana.

“Ini tinggal eksekusinya,” tegas Heru.

Polanya, lanjut Heru, persis sama dengan grameen bank. Di mana, yang berhak menerima pembiayaan mulai dari Rp1 juta hingga Rp10 juta kemudian dari Rp10 juta hingga Rp20 juta, dibagikan dengan kelompok usaha minimal 6 orang ibu-ibu.

“Ketika satu debitur macet maka yang lain ikut tanggung renteng bersama-sama. Dan ini hanya kita fokuskan untuk pembiayaan ibu-ibu. Tidak boleh untuk laki-laki,” imbuh Heru.

Pada prinsipnya, menurut Heru, kaum ibu lebih bertanggungjawab dalam hal pembayaran dan komitmen. Dahulu, pihaknya sudah punya produk bernama ‘Permaisuri’. Tapi, produk itu akan diganti karena kurang tepat dan mungkin nanti namanya akan diberikan langsung oleh Gubsu.

“Sebab tagline kita saat ini ‘Kolaborasi Sumut Berkah’. Jadi tagline itulah alur dasarnya,” sebut dia.

Heru juga meyakinkan bahwa, ibu-ibu penerima program bantuan bukan saja yang sudah punya usaha. Bahkan, yang masih berencana punya usaha juga akan dibiayai dengan catatan punya kemampuan membayar kewajiban.

Heru yang baru terpilih sebagai Ketua Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (IJK) Sumut periode 2026-2027 ini menambahkan, Bank Sumut juga akan fokus pada pengembangan Sumut Link di Tapsel. Sumut Link sebenarnya program agen laku pandai (layanan keuangan tanpa kantor) untuk memperluas jangkauan layanan perbankan.

“Agen Sumut Link akan melayani setoran, tarik tunai, transfer, dan pembayaran tagihan bagi masyarakat, sekaligus meningkatkan omset usaha agen melalui sharing fee,” tuturnya.

Bagi mereka yang menjadi agen Sumut Link, sebut Heru, akan menerima biaya bagi hasil kompetitif, peningkatan omset, serta reward. Maka, saat ini pihaknya terus fokus pada pengembangan bisnis bank serta melakukan berbagai perbaikan internal.

Kalau di Tapsel, Sumut Link ini sudah terbaca. Setidaknya, dimulai dengan jumlah desa terdata 248. Kemudian, di bawahnya ada Kepala Dusun yang jumlahnya sekitar 436. Jika kemudian program Sumut Link menyentuh desa dan Kepala Dusun saja, maka menurutnya, akan memperluas pelayanan Bank Sumut dari sisi pendanaan.

“Kemudian jika masing-masing Kepala Desa dan Kepala Dusun bekerjasama dengan warga mengembangkan Sumut Link maka potensi di Tapsel akan luar biasa. Hal itulah yang saat ini sedang dipersiapkan tim,” cetus Heru.

Apabila program ini berjalan maksimal di Tapsel, ia yakin, Pemda di Sumut akan mau bekerjasama demi memajukan daerahnya. Dia berharap, program ini berjalan komprehensif dengan dukungan dari berbagai pihak.

“Kita sebenarnya sebagai eksekutor dari program-program Gubernur Sumatera Utara terutama pada pemberdayaan masyarakat agar kemudian ekonomi Sumut maju lebih cepat,” tutupnya. (Rel/Reza FH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *