PIONERNEWS.COM, TAPANULI SELATAN – Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel), Gus Irawan Pasaribu, mengatakan, bencana yang terjadi pada November 2025 silam turut mengakibatkan lebih dari 3.000 Hektare lahan sawah gagal panen.
Untuk itu, menurutnya, Tapsel saat ini sangat memerlukan dukungan dalam hal pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi. Saat ini, Pemkab Tapsel sendiri, tengah fokus mengejar peningkatan produktivitas guna menutup kekurangan produksi akibat kerusakan lahan pertanian kemarin.
“Walaupun ada sekitar 3.000 Hektare sawah yang gagal panen, kita optimistis dapat menutup gap (sekat) produksi melalui peningkatan produktivitas,” tegas Gus Irawan saat hadiri rapat koordinasi mitigasi kekeringan lahan pertanian terkait prediksi kekeringan ekstrem 2026, pada Senin (20/04/2026).
Dalam rapat yang digelar Kementerian Pertanian Republik Indonesia di Jakarta itu, Bupati mengaku bahwa saat ini, pihaknya tengah fokus untuk merehabilitasi lahan sekitar 600 Hektare lahan sawah. Di mana, rehabilitasi ini merupakan inisiasi dari Kementerian Pertanian.
Ia mengungkapkan bahwa, Pemkab Tapsel tengah mengembangkan varietas padi unggul tahan kekeringan bernama Gama Gora yang telah dikembangkan di empat lokasi dan menunjukkan hasil produksi hingga 9,6 Ton per Hektare.
Selain itu, kata dia, pemerintah daerah juga sedang melatih para penangkar benih guna memastikan ketersediaan benih Gama Gora di Tapsel. Mengingat, semakin berkurangnya debit air akibat perubahan iklim dan pemanasan global.
“(Varietas padi) Gama Gora menjadi salah satu jawaban atas persoalan kekurangan air di sawah-sawah kita. Ini solusi jangka panjang menghadapi climate change (perunahan iklim,” tambahnya.
Sebelumnya, Bupati menyampaikan bahwa, kegiatan tersebut sangat strategis dalam mendorong kebijakan pertanian nasional sekaligus memperkuat kesiapan daerah menghadapi ancaman perubahan iklim.
“Saya kira ini sesuatu yang sangat baik untuk mendorong keputusan pembangunan pertanian kita,” ungkap Gus Irawan.
Menurutnya lagi, paparan dari Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, dalam rapat ini sangatlah komprehensif dan hari ini masuk tahap finalisasi, terutama terkait bantuan APBN untuk penguatan irigasi.
Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, mengatakan, pemerintah pusat telah menyiapkan berbagai program antisipasi kekeringan, termasuk penyediaan bibit tahan kekeringan, mekanisasi pertanian, pembangunan embung, pompanisasi, serta penguatan jaringan irigasi nasional.
Ia menyebutkan, total dukungan anggaran sektor pertanian mencapai sekitar Rp40 triliun, termasuk penguatan irigasi dan pengembangan perkebunan, guna memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga di tengah dinamika geopolitik global dan perubahan iklim.
Menteri Pertanian juga menegaskan bahwa, bantuan pemerintah akan diberikan berdasarkan potensi wilayah serta respons dan kesiapan pemerintah daerah dalam menjalankan program pertanian.
“Daerah yang serius, datanya jelas dan kepala daerahnya responsif, tentu akan menjadi prioritas. Program ini untuk rakyat, jadi harus dikawal bersama,” tegasnya.
Melalui rapat tersebut, pemerintah menargetkan daerah pertanian up land yang selama ini hanya mampu tanam sekali dalam setahun dapat ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali per musim tanam melalui optimalisasi sumber air seperti embung, sungai, sumur dalam maupun pompanisasi.
Sebagai informasi, rapat nasional ini digelar sebagai tindak lanjut prediksi BMKG mengenai potensi kekeringan ekstrem 2026 sekaligus arahan Menteri Pertanian dalam memperkuat program swasembada pangan berkelanjutan di seluruh daerah Indonesia.
Rapat mitigasi kekeringan ini juga diharapkan menjadi langkah konkret memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani melalui produktivitas pertanian yang lebih tinggi dan berkelanjutan. (Rel/Reza FH)














