Example floating
Example floating
BeritaDaerahSumutTapanuli Selatan

Biaya Pakan Ternak di Tapsel Tinggi, Simak Solusi Jitu Gus Irawan Menanganinya!

153
×

Biaya Pakan Ternak di Tapsel Tinggi, Simak Solusi Jitu Gus Irawan Menanganinya!

Sebarkan artikel ini
Bupati Tapsel, Gus Irawan Pasaribu, bersama jajaran, saat panen ikan sebagian di kolam air tenang Pokdakan Panompuan Jae Bangkit di Kecamatan Angkola Timur
Bupati Tapsel, Gus Irawan Pasaribu, bersama jajaran, saat panen ikan sebagian di kolam air tenang Pokdakan Panompuan Jae Bangkit di Kecamatan Angkola Timur. (Foto: M Reza Fahlefi)

PIONERNEWS.COM, TAPANULI SELATAN – Persoalan pakan menjadi titik krusial upaya meningkatkan produksi perikanan dan peternakan di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel). Tingginya biaya pakan akibat panjangnya rantai distribusi mendorong pemerintah daerah mencari solusi konkret.

Bahkan, Pemkab Tapsel berencana menghadirkan Depo pakan ternak hingga penguatan ekosistem jagung sebagai bahan baku utama. Hal itu disampaikan Bupati Tapsel, Gus Irawan Pasaribu, saat menghadiri panen sebagian ikan mas di kolam air tenang Pokdakan Panompuan Jae Bangkit, Kecamatan Angkola Timur, Selasa (05/05/2026) siang.

Dalam keterangannya, Gus Irawan menegaskan bahwa, program Gerakan Seribu Kolam yang dicanangkan sejak akhir 2025 sejatinya bukan sekadar target angka. Gerakan Seribu Kolam yang digagas Bupati itu, sebenarnya di akhir 2025 lalu itu, sudah mencapai 977 kolam.

“Sampai saat ini, kalau seribu kolam itu sudah tercapai, bahkan lebih. Karena, Gerakan Seribu Kolam itu hanya tagline atau jargon, bukan jadi tujuan utamanya,” ujarnya.

Ia menekankan, tujuan utama program itu adalah mendorong kemandirian atau swasembada pangan, khususnya sektor perikanan di Tapsel. Berdasar data, pada 2025, konsumsi ikan masyarakat Tapsel mencapai lebih dari 15 ribu ton per tahun.

“Sementara, produksi lokal baru mampu menyentuh angka 7.500 ton, sehingga terjadi defisit sekitar 50 persen. Ini yang mau kita kejar, maka program ini terus berkelanjutan,” katanya.

Dalam evaluasi pemerintah daerah, baik di sektor perikanan maupun peternakan, biaya terbesar terletak pada kebutuhan pakan berupa pelet. Selama ini, pakan harus melewati berbagai mata rantai distribusi sebelum sampai ke peternak, yang berimbas pada tingginya harga.

Sebelum bencana melanda Tapsel, Bupati sempat menjalin komunikasi dengan Direktur PT Japfa, perusahaan produsen pakan ternak, untuk membuka pabrik di wilayah tersebut.

“Pada intinya, kita minta mereka buka pabrik pembuatan pakan ternak di Tapsel. Kemudian, pihak PT Japfa butuh keterjaminan pasokan jagung sebagai bahan baku pembuat pelet dan kita bisa pastikan untuk memenuhi itu,” jelasnya.

Namun rencana tersebut sempat tertunda akibat bencana yang terjadi. Padahal, PT Japfa jadwalnya mau datang ke Tapsel meninjau di akhir November 2025 itu. Setelah kondisi mulai pulih dari bencana, Tim dari PT Japfa kembali melakukan kunjungan ke Tapsel.

Meski demikian, rencana pembangunan pabrik dinilai belum memungkinkan, salah satunya karena ketergantungan bahan baku impor.

“Setelah proses pemulihan pasca bencana sudah mulai berjalan baik, pekan lalu, Tim-nya PT Japfa sudah datang ke Tapsel. Namun begitu, kalau untuk membuka pabrik pakan ternak di Tapsel, rasanya belum bisa. Karena, saya juga baru tahu, 50 persen bahan baku pembuat pakan itu diimpor dari luar negeri,” terangnya.

“Jadi, (kalau mau ada pabrik) butuh Pelabuhan Internasional. (Sementara), kita (Tapsel) nggak punya,” tambahnya.

Sebagai solusi alternatif, pemerintah daerah didorong untuk membangun depo pakan di wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), guna memotong rantai distribusi.

“Tapi intinya, kami berkeinginan bagaimana biaya pakan ternak ini bisa ditekan. Nah, dalam diskusi kita itu, mereka mendorong di Tapsel bisa didirikan Depo (penghubung produsen, distributor, retail, dan konsumen akhir) di Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel),” sebutnya.

Dalam skema tersebut, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Tapsel akan ditunjuk sebagai distributor utama yang terhubung langsung dengan pabrikan.

“Sehingga nanti, BUMD (Tapsel) saya akan tunjuk sebagai distributor yang berhubungan dengan pabrikan. Nanti, BUMD berhubungan langsung dengan kelompok-kelompok peternak ini,” cetusnya.

Dengan rantai distribusi yang lebih pendek, diharapkan biaya produksi dapat ditekan secara signifikan. Tak hanya itu, muncul pula gagasan efisiensi logistik melalui sistem angkut balik.

Truk pengangkut pakan ke Tapsel diharapkan tidak kembali dalam kondisi kosong, melainkan membawa hasil komoditas lokal. Dan ternyata, PT Japfa membutuhkan jagung dengan jumlah yang terbatas.

“Nah, selanjutnya program yang akan kita galakkan di Tapsel ini Gerakan Seribu Hektare Jagung. Jadi, Truk pengangkut datang ke Tapsel bawa pakan, pulangnya bisa bawa jagung punya petani kita untuk dijual ke pabrik pembuat pakan,” ungkap Gus Irawan.

Ia juga menyoroti fakta bahwa, sekitar delapan pabrik pakan di Kota Medan masih bergantung pada pasokan jagung dari luar Pulau Sumatera, padahal potensi lahan di Sumatera Utara, khususnya Tapsel, masih sangat luas.

Lebih lanjut, pemerintah pusat melalui Bulog juga telah hadir sebagai off-taker untuk menyerap hasil pertanian masyarakat.

“Untuk gabah, harga yang ditampung Bulog Rp6.500. Sedangkan jagung ditampung Bulog Rp5.500. Jadi ini bisa menjadi ekosistem baru di Tapsel,” paparnya.

Dengan integrasi program perikanan, peternakan, distribusi pakan, serta pengembangan jagung, Bupati optimistis akan tercipta sistem ekonomi yang saling terhubung dan berkelanjutan.

“Kita bina peternak ikan atau ayam, pakannya kita siapkan melalui BUMD untuk tadi biaya transportasi, kemudian dengan banyaknya lahan kosong di Tapsel untuk menekan biaya transportasinya agar lebih minim, kita bisa menanam jagung. Sehingga, saat pengangkutan kembali ke Medan usai bawa pakan ke sini, ada muatan yang diangkut dari sini dengan memasukkan jagung,” urai Bupati.

Sebelumnya, Bupati dan jajaran tampak makan bersama dengan hasil panen ikan mas sebagian Pokdakan Panompuan Jae Bangkit. Dalam kesempatan itu, Gus Irawan berharap ke Pokdakan agar menyisihkan sebagian hasil panen untuk membeli benih dan kebutuhan pakan ke depan, agar perputaran ekonomi Pokdakan terus berlanjut.

Di sisi lain, Kepala Dinas Perikanan Tapsel, Saiful AP Nasution, dalam laporannya menjelaskan bahwa, sebelum dipanen, pihaknya telah menyalurkan bantuan untuk lebih kurang 15 kolam milik Pokdakan Panompuan Jae bangkit sebanyak 20 ribu ekor benih ikan mas, serta 230 Zak pakan, berikut peralatannya.

“Sejalan dengan Gerakan Seribu Kolam yang digagas Bapak Bupati, Pokdakan Panompuan Jae Bangkit yang memiliki 15 kolam ini, dibantu Pemkab Tapsel melalui Dinas Perikanan yaitu, 20 ribu ekor benih ikan mas hingga 230 Zak pakan. Dan hari ini, kita bisa panen lebih kurang 500 Kg ikan mas,” ucapnya bersyukur.

Sebagai informasi, di hari yang sama sebelum panen tersebut, Bupati dan rombongan juga menyerahkan bantuan dari Dinas Perikanan Tapsel sekaligus penebaran benih ikan di Lubuk Larangan Desa Pargarutan Tonga. (Reza FH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *