Example floating
Example floating
BeritaDaerahSumutTapanuli Selatan

Gus Irawan Ungkap Dua Solusi untuk Akses Jalan Aek Nabara: Relokasi atau Izin Buka Jalan di Hutan Lindung

200
×

Gus Irawan Ungkap Dua Solusi untuk Akses Jalan Aek Nabara: Relokasi atau Izin Buka Jalan di Hutan Lindung

Sebarkan artikel ini
Bupati Tapsel, Gus Irawan Pasaribu, beristirahat sejenak saat menembus medan terjal dan licin di tengah hutan belantara menuju sebuah kampung bernama Dusun Aek Nabara
Bupati Tapsel, Gus Irawan Pasaribu, beristirahat sejenak saat menembus medan terjal dan licin di tengah hutan belantara menuju sebuah kampung bernama Dusun Aek Nabara. (Foto: M Reza Fahlefi)

PIONERNEWS.COM, TAPANULI SELATAN – Perjalanan berat dan penuh tantangan yang ditempuh Gus Irawan Pasaribu ke Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), membuka mata banyak pihak tentang sulitnya akses masyarakat di wilayah terpencil tersebut.

Usai melantik 67 kepala desa dan dua kepala desa pengganti antar waktu (PAW), Rabu (13/05/2026) siang, Gus Irawan, didampingi Wakil Bupati, Jafar Syahbuddin Ritonga, membeberkan ke wartawan terkait kondisi nyata yang di hadapi warga serta dua solusi utama yang sedang diupayakan Pemkab Tapsel.

Menurutnya, Desa Dalihan Natolu terdiri dari tiga dusun dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit. Dusun Aek Nabara dihuni 19 kepala keluarga (KK), Dusun Nanggoluan sebanyak tujuh KK, dan Dusun Tano Ponggol yang merupakan pusat pemerintahan desa dihuni 35 KK.

“Di Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse ini ada tiga dusun. Di Dusun Nanggoluan ada 7 Kepala Keluarga (KK) yang bermukim. Sedangkan di Dusun Tano Ponggol ada 35 KK paling besar dan juga Kantor Desa Dalihan Natolu di sana. Dan di Dusun Aek Nabara ini ada 19 KK,” ujar Gus Irawan.

Gus Irawan mengaku, medan menuju Aek Nabara sangat berat. Jalan yang terjal, licin, dan berada di tengah kawasan hutan lindung membuat akses menuju dusun itu nyaris mustahil dilalui kendaraan.

Bahkan, berdasarkan penuturan warga, selama Kabupaten Tapsel berdiri, baru kali ini ada seorang Bupati yang datang langsung ke Aek Nabara.

Kunjungan tersebut dilakukan setelah video seorang ibu hamil bernama Tuti Daulay yang ditandu sejauh puluhan kilometer menuju rumah sakit viral di media sosial.

Atas situasi itu, Bupati menyebut ada dua opsi untuk mengatasi keterisolasian Aek Nabara. Solusi pertama adalah relokasi warga ke lokasi yang lebih mudah dijangkau. Namun upaya itu belum mendapat dukungan penuh dari masyarakat.

“Tadinya, kami coba cari peluang untuk merelokasi masyarakat di sana. Tapi, sepertinya belum mendapat sambutan positif yang massif dari masyarakat itu sendiri. Mungkin ada anak-anak muda yang kepengen pindah dari sana, tapi secara keseluruhan belum mendapat sambutan positif untuk direlokasi,” sebutnya.

Menurut Gus Irawan, alasan utama warga enggan pindah karena mereka telah tinggal secara turun-temurun di wilayah tersebut.

“Kalau istilah adatnya, pusar dan pusaranya sudah di sana,” ucapnya.

Solusi kedua adalah meminta pemerintah pusat memberikan izin khusus untuk membuka akses jalan di kawasan hutan lindung.

“Mungkin kami bisa dibantu dengan diberi izin membuat rabat beton misalnya, sehingga roda dua atau tiga bisa lewat begitu. Itupun sudah sangat membantu masyarakat di sana,” jelasnya.

Bukan tak berupaya, tahun lalu, Pemkab Tapsel telah mencoba membuka jalan melalui program TMMD (TNI Manunggal Membangun Desa). Namun, rencana tersebut tidak mendapat izin karena lokasi Dusun Aek Nabara berada di kawasan hutan lindung.

“Tapi, karena tidak mendapat izin, maka (TMMD) pindah (dialihkan) ke (Desa) Pasir Bidang (Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapsel). (Pembukaan jalannya) itu dari Angkola Sangkunur ke Angkola Barat. Di situ pun sesungguhnya (kawasan) hutan juga. Tapi hutan produksi,” terang Bupati.

Menurutnya, karena status hutan lindung yang sangat ketat, pemerintah pusat memiliki kewenangan penuh untuk menentukan apakah pembangunan jalan dapat dilakukan.

Gus Irawan mengungkapkan betapa berat perjalanan menuju Aek Nabara. Ia berangkat dari Kantor Bupati pada Selasa (12/05/2026) pukul 10.00 WIB dan baru tiba kembali di rumah dinas pada Rabu (13/05/2026) sekitar pukul 05.00 WIB.

“Tapi memang, medan di sana sangat berat. Saya berangkat dari Kantor Bupati Selasa (12/05/2026) pukul 10.00 WIB dan baru sampai lagi ke rumah dinas Rabu (13/05/2026) sekira pukul 05.00 WIB,” tuturnya.

Selain persoalan akses, ketiadaan tenaga kesehatan di Aek Nabara juga menjadi sorotan. Menurut Gus Irawan, sebelumnya terdapat bidan desa yang bertugas di sana. Namun, bidan tersebut lulus seleksi PPPK dan tidak lagi bertugas di dusun tersebut.

“Tapi, kami sudah menyiasati itu dengan semacam perintah penugasan dari Bupati begitu. Jadi bukan mutasi namanya, tapi penugasan,” tegasnya.

Bidan yang dimaksud diketahui merupakan putri asli Desa Dalihan Natolu yang kini telah menetap di Batang Toru. Pemkab akan melakukan pendekatan dengan mengedepankan rasa cinta terhadap kampung halaman agar yang bersangkutan bersedia kembali bertugas.

“Kami juga mendorong misalnya warga asal Desa Dalihan Natolu ini kalau ada yang bersekolah sebagai bidan, bisa kiranya ditugaskan tenaga kesehatan desa di sana begitu,” tandasnya.

Perhatian terhadap Aek Nabara mencuat setelah Tuti Daulay, seorang ibu hamil asal dusun tersebut, terpaksa ditandu warga sejauh sekitar 30 kilometer pada Sabtu (09/05/2026). Karena akses jalan tidak memungkinkan kendaraan masuk, proses evakuasi dilakukan secara manual menuju rumah sakit.

Dalam perjalanan, janin yang dikandung Tuti dinyatakan meninggal dunia. Pada Selasa (12/05/2026), Gus Irawan mendatangi Tuti di rumah keluarganya di Pining Nabaris, dekat Pasar Sipirok. Selain menyampaikan belasungkawa, Bupati juga memberikan bantuan tali asih.

Setelah itu, ia bersama rombongan langsung menuju Aek Nabara untuk melihat sendiri kondisi medan yang selama ini menyulitkan warga untuk mendapatkan layanan kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan dasar lainnya.

Kini, harapan masyarakat tertuju pada pemerintah pusat agar memberikan izin khusus untuk membuka akses jalan yang layak, sehingga tragedi serupa tidak kembali terjadi di pelosok Tapsel. (Reza FH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *