Example floating
Example floating
BeritaDaerahPendidikanSumutTapanuli Selatan

PTAR Dorong Generasi Muda Bangun Karakter dan Berani Jaga Batasan Diri Lewat Great Talk

162
×

PTAR Dorong Generasi Muda Bangun Karakter dan Berani Jaga Batasan Diri Lewat Great Talk

Sebarkan artikel ini
GMO PTAR, Wira Dharma Putra, saat menyampaikan sambutannya pada seminar daring lewat zoom bertajuk Great Talk dengan tema 'Respect Your Self: Diri, Batasan dan Masa Depan'
GMO PTAR, Wira Dharma Putra, saat menyampaikan sambutannya pada seminar daring lewat zoom bertajuk Great Talk dengan tema 'Respect Your Self: Diri, Batasan dan Masa Depan'. (Foto: Tangkapan layar seminar zoom)

PIONERNEWS.COM, TAPANULI SELATANPT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe-Batang Toru, menggelar seminar daring bertajuk Great Talk dengan tema ‘Respect Your Self: Diri, Batasan dan Masa Depan’, Jumat (08/05/2026).

Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) itu, diikuti ratusan pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah, serta puluhan jurnalis melalui platform zoom.

Imelda Riris Damayanti, co-founder Never Okay Project (NOP) sekaligus penerima SATU Indonesia Awards bidang pendidikan, yang menjadi narasumber pada seminar daring lewat zoom bertajuk Great Talk dengan tema 'Respect Your Self: Diri, Batasan dan Masa Depan'
Imelda Riris Damayanti, co-founder Never Okay Project (NOP) sekaligus penerima SATU Indonesia Awards bidang pendidikan, yang menjadi narasumber pada seminar daring lewat zoom bertajuk Great Talk dengan tema ‘Respect Your Self: Diri, Batasan dan Masa Depan’. (Foto: Tangkapan layar seminar zoom)

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen PTAR dalam mendukung pembangunan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, sehat secara mental, dan mampu menghadapi tantangan masa depan.

General Manager Operations (GMO) PTAR, Wira Dharma Putra, dalam sambutannya menegaskan bahwa, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis maupun kecerdasan akademik semata.

“Keberhasilan juga sejalan dengan bagaimana seseorang memahami dirinya sendiri, menjaga integritas, serta memiliki tujuan hidup yang jelas,” kata Wira.

Selama kurang lebih 25 tahun berkecimpung di dunia pertambangan, ia belajar bahwa, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis atau kecerdasan semata, tetapi juga bagaimana seseorang mengenal dirinya sendiri, memahami batasannya, menjaga integritas, serta memiliki tujuan hidup yang jelas.

Menurutnya, dunia kerja, termasuk industri pertambangan, penuh dengan tantangan dan tekanan. Karena itu, kemampuan menghargai diri sendiri menjadi hal penting agar seseorang mampu mengambil keputusan dengan bijak.

“Di dunia pertambangan juga harus kuat menghadapi tekanan dan membangun hubungan yang sehat dengan lingkungan sekitar,” tambah Wira.

Wira menilai, penghargaan terhadap diri sendiri merupakan langkah awal membangun karakter yang kuat dan sehat di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks. Ia juga menekankan pentingnya membentuk disiplin, tanggung jawab.

Selain itu, seseorang harus memiliki keberanian menjaga prinsip sejak usia pelajar dan mahasiswa. Generasi muda, harus paham dan menghargai kemampuan diri masing-masing, bukan hanya soal percaya diri.

“Tetapi juga nilai, kekuatan, dan hal-hal yang kita perjuangkan. Termasuk batasan-batasan yang kita tetapkan, sehingga kita berani memperjuangkan apa yang kita anggap benar dan baik,” ucapnya.

Ia mengingatkan bahwa, masa pelajar dan mahasiswa merupakan fase penting yang sangat menentukan arah masa depan seseorang. Cara memperlakukan diri sendiri, menentukan prioritas, hingga keberanian menolak hal-hal negatif akan sangat memengaruhi kehidupan di masa mendatang.

“Berani menolak hal-hal yang dianggap tidak baik itu sangat menentukan. Begitu juga tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain,” terangnya.

Menutup sambutannya, Wira menyampaikan tiga pesan utama kepada para peserta. Pertama, hormati diri dengan mengenali diri sendiri. Kedua, jaga batasan diri agar tidak mudah dikompromikan.

“Dan ketiga, arahkan langkah menuju masa depan yang kita cita-citakan,” pungkasnya.

Prinsip Menghargai Diri Sendiri

Dalam kegiatan tersebut, PTAR menghadirkan narasumber inspiratif Imelda Riris Damayanti, co-founder Never Okay Project (NOP) sekaligus penerima SATU Indonesia Awards bidang pendidikan.

Kehadirannya mendapat respons antusias dari peserta yang aktif berdialog sepanjang sesi berlangsung. Dalam pemaparannya, Imelda menekankan pentingnya pembentukan karakter sebagai pondasi utama menentukan masa depan generasi muda.

Ia mengajak peserta untuk lebih menghargai diri sendiri dengan memahami nilai, kemampuan, serta batasan pribadi. Menurutnya, kesadaran terhadap diri sendiri sangat penting.

Kesadaran terhadap diri sendiri, membuat seseorang mampu menentukan arah hidup secara positif dan tidak mudah terpengaruh lingkungan yang buruk.

“Keberhasilan seorang anak tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga oleh karakter, sikap, serta kemampuan menghargai diri sendiri maupun orang lain,” sebutnya.

Imelda juga menyoroti tantangan generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan media sosial yang begitu cepat. Karena itu, pelajar harus memiliki karakter kuat agar tidak mudah terseret pengaruh negatif.

Karakter seperti disiplin, tanggung jawab, jujur, percaya diri, dan kemampuan mengendalikan diri disebutnya menjadi bekal penting menghadapi masa depan.

Selain membahas pengembangan karakter, Imelda turut menyinggung pentingnya keberanian berbicara, menciptakan ruang aman, menjaga batasan diri, hingga isu pelecehan seksual yang kerap dialami perempuan maupun anak muda.

Ia menegaskan bahwa perempuan harus memiliki ruang untuk berbicara ketika mengalami perlakuan tidak nyaman di lingkungan pendidikan maupun pekerjaan.

“Jika kamu atau temanmu mengalami sesuatu yang tidak nyaman, jangan menanggung sendiri. Ceritakan kepada orang tua, guru BK, dosen, atau orang yang dipercaya,” pesannya.

Dalam pergaulan sehari-hari, Imelda juga mengingatkan remaja agar selektif memilih lingkungan dan pertemanan yang saling mendukung serta mendorong ke arah positif.

Sebaliknya, ia mengingatkan agar waspada terhadap lingkungan yang meremehkan ide, cita-cita, maupun potensi diri karena dapat berdampak buruk terhadap rasa percaya diri.

Ia juga menegaskan bahwa, kegagalan bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian dari proses belajar untuk membentuk mental yang tangguh dan sikap pantang menyerah.

“Anak-anak perlu diajarkan mengenali potensinya, memahami batasannya, dan berani menentukan masa depan sesuai kemampuan serta minatnya,” tuturnya.

Imelda turut menginformasikan bahwa saat ini, tersedia berbagai kanal pelaporan dan pendampingan bagi korban kekerasan maupun pelecehan, termasuk melalui Never Okay Project, hotline 129 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, hingga layanan konseling kesehatan masyarakat.

“Kalau mengalami kekerasan atau pelecehan, jangan menyalahkan diri sendiri. Cari bantuan dan berceritalah kepada orang terdekat,” tutupnya.

Sebelum diakhiri, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara peserta dengan narasumber. Diskusi yang berlangsung interaktif itu mendapat sambutan positif dari peserta.

Banyak pelajar maupun mahasiswa yang begitu antusias mengajukan pertanyaan terkait kesehatan mental, pembentukan karakter, tantangan pendidikan, hingga cara mempersiapkan diri menghadapi perubahan zaman. (Reza FH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *