PIONERNEWS.COM, TAPANULI SELATAN – Tim Ekspedisi Hutan Merdeka membentangkan spanduk raksasa bertuliskan ‘No Second Home, Restore Their Forest’ di Jembatan Trikora, Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), pada Rabu (19/08/2026).
Aksi damai tersebut menjadi penutup perjalanan bersepeda lebih dari 1.700 kilometer mulai Jakarta menuju Batang Toru sekaligus memperingati Hari Orangutan Internasional.
Aksi yang diinisiasi Satya Bumi itu membawa pesan penyelamatan hutan dan Orangutan Tapanuli serta mendorong pemulihan lingkungan di Aceh dan Sumatera.
Direktur Eksekutif Satya Bumi, Andi Muttaqien, mengatakan, perlindungan orangutan tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kelestarian hutan dan keselamatan masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Menurutnya, orangutan merupakan indikator penting kesehatan ekosistem hutan. Ketika populasi orangutan terancam, kondisi hutan sebagai habitatnya juga berada dalam ancaman.
“Hari ini kita memperingati Hari Orangutan Internasional, kenapa ini penting bagi kita orang Indonesia, karena orangutan hanya ada di Indonesia. Ia merupakan spesies yang sangat mirip dengan manusia,” ujar Andi.
Ia menyebut keberadaan orangutan dapat menjadi penanda apakah hutan masih berada dalam kondisi baik. Karena itu, seruan yang disampaikan dalam aksi tersebut tidak hanya menyangkut satwa, tetapi juga perlindungan hutan dan masyarakat.
Satya Bumi juga menyoroti bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Kecamatan Batang Toru November 2025 lalu. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), bencana ini menyebabkan 34 orang meninggal dunia dan ribuan warga terdampak.
Sementara itu, laporan terbaru yang disampaikan dalam aksi tersebut memperkirakan sebanyak 58 individu Orangutan Tapanuli turut mati akibat bencana. Jumlah itu disebut setara dengan penurunan sekitar 7 persen populasi Orangutan Tapanuli dalam waktu yang relatif singkat.
Kondisi itu dinilai memperlihatkan semakin besarnya tekanan terhadap Ekosistem Batang Toru yang menjadi habitat satu-satunya bagi Orangutan Tapanuli.
Satya Bumi menyebut habitat Orangutan Tapanuli terus menghadapi tekanan akibat pembangunan dan aktivitas industri. Wilayah ini disebut berada di Blok Barat Ekosistem Batang Toru yang merupakan salah satu habitat Orangutan Tapanuli.
Menurut Satya Bumi, berkurangnya dan terfragmentasinya habitat dapat mempersempit ruang jelajah orangutan sekaligus meningkatkan risiko perkawinan antarindividu yang masih memiliki hubungan kekerabatan dekat.
Kondisi ini dikhawatirkan berdampak terhadap keberlangsungan populasi dalam jangka panjang. Juru Kampanye Walhi Sumatera Utara, Maulana Shiddiq, mengatakan Orangutan Tapanuli berada dalam kondisi yang sangat rentan terhadap kepunahan.
“Orangutan Tapanuli rentan atas kepunahan, mungkin 10-15 tahun lagi mereka akan punah. Untuk itu keanekaragaman hayati harus dilindungi,” katanya.
Ia berharap Hari Orangutan Internasional menjadi momentum bagi pemerintah, khususnya Kementerian Kehutanan, untuk meningkatkan perhatian terhadap perlindungan Orangutan Tapanuli.
Satya Bumi juga menyampaikan, hasil pemantauan satelit pascabencana banjir bandang 2025. Dari pemantauan tersebut, ditemukan banyak titik longsor baru yang disebut berkelindan dengan wilayah konsesi berbagai industri di Ekosistem Batang Toru.
Kondisi itu dinilai menjadi peringatan bahwa risiko bencana ekologis dapat semakin besar apabila deforestasi dan aktivitas yang merusak ekosistem tidak dikendalikan.
Selain ancaman kerusakan hutan, minimnya peringatan dini dan penanganan bencana juga menjadi perhatian. Satya Bumi menyebut masih terdapat masyarakat yang tinggal di hunian sementara dan dihantui kekhawatiran ketika hujan turun.
Dalam aksi tersebut, Pendiri Orangutan Information Center, Panut Hadisiswoyo, turut menyerukan pentingnya menjaga hutan sebagai bagian dari upaya melindungi orangutan dan masa depan masyarakat.
“Jaga hutan, jaga orangutan! Lindungi hutan di Tapanuli, lindungi orangutan Tapanuli, lindungi masa depan Indonesia, pulihkan hutan Tapanuli,” sebutnya saat berorasi di Jembatan Trikora.
Melalui aksi tersebut, Satya Bumi bersama koalisi masyarakat sipil dan Tim Ekspedisi Hutan Merdeka meminta pemerintah mengambil langkah konkret untuk melindungi Ekosistem Batang Toru.
Selain itu, pemerintah didesak menjaga sumber daya alam yang tersisa, termasuk populasi Orangutan Tapanuli yang disebut berjumlah kurang dari 800 individu.
Mereka juga menyerukan pemulihan Ekosistem Batang Toru serta wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, sekaligus penanganan serius terhadap potensi bencana ekologis.
Aksi damai di Jembatan Trikora ini menjadi penegasan, perlindungan Orangutan Tapanuli dipandang tidak hanya sebagai upaya menyelamatkan satwa langka, tetapi juga bagian dari menjaga hutan, ekosistem, dan keselamatan masyarakat di sekitarnya. (Rel)













