PIONERNEWS.COM, TAPANULI SELATAN – Berawal dari menjajakan keripik dengan kemasan plastik kecil seharga seribuan rupiah, Rohima Hasibuan (38), perlahan membangun usaha kuliner yang kini mampu menghasilkan omzet hingga Rp2 juta per bulan.
Usaha tersebut diberi warga Kelurahan Aek Pining, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) itu dengan nama Mak Bastian Snack, sebuah UMKM kuliner yang kini dikenal dengan produk unggulannya berupa, rempeyek dan berbagai jenis keripik.
Perjalanan Rohima membangun usaha ini tidak berlangsung instan. Sebelum menjadi pelaku UMKM binaan PT Agincourt Resources (PTAR), ia terlebih dahulu menjalani aktivitas sebagai pengajar di MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) atau tempat mengaji sore.
Di sela-sela kesibukannya mengajar, Rohima selalu membawa keripik buatannya untuk dijual. Ia juga mendatangi sejumlah kedai untuk menawarkan keripik dengan harga terjangkau.
“Sembari mengajar, saya selalu membawa keripik-keripik untuk dijual. Saya juga menjajakan keripik-keripik ke kedai-kedai dengan harga seribuan rupiah dengan kemasan plastik kecil,” kenang Rohima saat ditemui wartawan, pada Rabu (19/08/2026) siang di Batang Toru.
Dari usaha sederhana tersebut, Rohima terus belajar dan berusaha. Hingga pada 2022, PTAR mengajaknya bergabung sebagai salah satu UMKM binaan. Kesempatan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan usaha Rohima.
Sejak menjadi UMKM binaan, ia mendapatkan berbagai pelatihan. Mulai dari teknik membuat keripik dan rempeyek agar lebih renyah, pengemasan produk, hingga cara memasarkan produk melalui media sosial.
Perubahan itu juga terasa dari sisi tempat produksi. Sebelum mendapat pembinaan, dapur produksi Rohima masih menyatu dengan dapur rumah tangga. Ia juga belum memahami bagaimana memasarkan produk secara daring.
Kini, Rohima telah memiliki dapur produksi berukuran sekitar 2,5 x 5 meter dukungan dari PTAR yang dilengkapi sejumlah peralatan pendukung, termasuk sealer. PTAR juga memberikan dukungan terhadap kebutuhan peralatan dan pengembangan usaha, termasuk membantu dari sisi modal usaha dalam bentuk dukungan sarana produksi.
“Dapur saya sekarang luasnya 2,5×5 meter. Begitu juga dengan modal awal, PTAR juga membantu kami. Dan kami juga diajarkan cara memasarkan produk secara online lewat media sosial,” katanya.

Dari Ratusan Ribu Jadi Jutaan
Perubahan paling nyata yang dirasakan Rohima adalah peningkatan omzet. Sebelum dibina, omzet Mak Bastian Snack berada di kisaran Rp400 ribu hingga Rp800 ribu per bulan. Kini, omzetnya dapat mencapai sekitar Rp2 juta per bulan.
Produk yang dijual pun semakin berkembang. Untuk kemasan siap makan ukuran 100 gram misalnya, rempeyek dan keripik Mak Bastian Snack biasanya dijual dengan harga Rp25 ribu.
Rohima mengakui, salah satu tantangan dalam produksinya adalah harga kemasan. Kemasan tersebut harus dipesan dari Bandung hingga Jawa Timur, karena belum tersedia di daerahnya.
“Memang, harga kemasannya yang mahal,” tuturnya.
Selain produk dalam kemasan, Rohima juga melayani pesanan dengan kemasan sesuai permintaan pelanggan. Jika jumlah pesanannya banyak, harga pun dapat disesuaikan agar lebih murah. Untuk produk keripik dan rempeyek, konsumen juga dapat meminta berbagai macam topping sesuai selera.
Nama Mak Bastian Snack sendiri memiliki cerita tersendiri. Nama tersebut diambil dari, anak sulung Rohima bernama, Bastian. Dalam kebiasaan masyarakat Batak, seseorang terkadang dipanggil menggunakan nama anak pertama.
Dari peningkatan omzetnya, Rohima kini bisa membantu menopang penghasilan sang suami yang sehari-hari bekerja sebagai petani. Bagi keluarga tersebut, usaha kuliner ini bukan sekadar aktivitas sampingan.
Meski mengalami perkembangan cukup signifikan, Rohima menyadari perjalanan usahanya masih panjang. Saat ini produk Mak Bastian Snack belum masuk ke jaringan minimarket.
Namun, PTAR telah membantu memasarkan produk tersebut melalui Bagas Silua, yang menjadi salah satu tempat pemasaran produk UMKM binaan maupun non-binaan PTAR di Tapsel. Selain itu, Rohima juga mulai mendapatkan pesanan dari luar daerah.
Salah satunya berasal dari Kota Padangsidimpuan. Produk Mak Bastian Snack dipesan untuk dipajang dan dijual di salah satu toko di kota tersebut.
“Untuk saat ini, memang produk kami belum masuk ke Minimarket. PTAR memang sudah membantu memasarkan produk kami di Bagas Silua dan mungkin nanti harapan kami ke depan bisa dibantu untuk dipasarkan di Minimarket,” harapnya.
Perkembangan itu menunjukkan bahwa, pembinaan UMKM tidak hanya berbicara mengenai peningkatan kemampuan produksi. Akses pasar menjadi bagian penting agar produk yang dihasilkan tidak berhenti di dapur produksi. Dan di sinilah peran pendampingan PTAR mulai dirasakan lebih luas.
Perizinan Pintu Awal
Di sisi lain, Senior Supervisor SME PTAR, Nurlailah, menjelaskan, ketika program pembinaan UMKM dimulai, salah satu persoalan yang banyak ditemukan adalah belum lengkapnya aspek legalitas usaha. Sejumlah pelaku UMKM belum memiliki PIRT, NIB, sertifikat halal maupun kemasan yang layak untuk dipasarkan secara lebih luas.
“Kendala yang kami temui saat membina UMKM ini di awal kebanyakan dari segi perizinan yang belum terpenuhi. Maka, kami juga membantu mempermudah pelaku UMKM untuk mengakses perizinan, sehingga produk mereka bisa dipasarkan lebih luas lagi,” jelasnya.
PTAR kemudian mendampingi proses tersebut, termasuk memberikan akses penyuluhan keamanan pangan melalui Dinas Kesehatan. Tim PTAR juga rutin mengunjungi dapur produksi UMKM binaan untuk melihat langsung proses produksi serta mengevaluasi berbagai aspek yang masih perlu diperbaiki.
Setelah aspek perizinan terpenuhi, pembinaan kemudian diarahkan pada pengembangan kapasitas dan kualitas produk. Namun, persoalan baru kemudian muncul. Di saat kemampuan produksi sudah meningkat, tetapi pemasaran masih terbatas.
Sebagian produk hanya dipasarkan melalui warung maupun sales makanan ringan dan belum mampu menembus jaringan toko modern. Karena itu, PTAR mulai mendorong UMKM binaannya untuk meningkatkan kualitas, memperbaiki kemasan dan menciptakan produk yang memiliki keunikan.
Upaya membuka pasar yang lebih luas mulai menunjukkan hasil. Salah satu UMKM binaan PTAR bahkan telah berhasil masuk ke outlet Bolu Kenanga dan dua outlet lainnya di Kota Padangsidimpuan. PTAR juga tengah mencoba membuka akses pemasaran ke outlet Bolu Amanda.
Sejumlah produk UMKM binaan bahkan sudah menembus pasar di Kota Medan. Menurut Nurlailah, masuk ke outlet tertentu tidak selalu mudah karena terdapat proses seleksi. Salah satu pertimbangannya adalah keunikan produk dan apakah produk tersebut sudah tersedia di outlet.
Karena itu, pelaku UMKM didorong untuk tidak hanya membuat produk yang sama dengan produk lain. Mereka didorong berinovasi dan menciptakan produk yang memiliki ciri khas.
“Contoh, selama ini rengginang itu terbuat dari ketan, nah ini ada yang mulai coba membuat dari ubi. Ada juga kue bawang dengan campuran dari semangka hingga buah naga, jadi ada nilai menariknya,” katanya.
Inovasi tersebut menjadi salah satu strategi agar produk UMKM lokal memiliki daya saing ketika masuk ke pasar yang lebih luas. Dalam pengembangan pasar, Bagas Silua memiliki posisi penting.
Tempat tersebut menjadi salah satu rumah pemasaran bagi produk UMKM binaan maupun non-binaan PTAR di Tapsel, baik untuk konsumen umum maupun karyawan perusahaan.
“Untuk pemasarannya, pasti di Bagas Silua, ya. Karena, Bagas Silua ini jadi rumah untuk pemasaran UMKM binaan dan non-binaan PTAR di Tapsel, baik untuk sasaran konsumen umum maupun karyawan perusahaan,” ujar Nurlailah.
Seluruh pesanan dari PTAR juga diarahkan melalui Bagas Silua. Selanjutnya, Bagas Silua berkoordinasi dengan UMKM, termasuk dalam hal harga. Mekanisme tersebut juga menjadi bagian dari evaluasi agar tidak terjadi perbedaan harga yang terlalu signifikan.
Ketika terjadi kenaikan harga bahan baku, pelaku UMKM dapat menyampaikan usulan penyesuaian harga kepada PTAR untuk kemudian dievaluasi bersama berdasarkan kondisi pasar dan segmen konsumen.
53 UMKM Kuliner Dibina
Program pembinaan UMKM PTAR sendiri telah berlangsung sejak 2021. Pada 2025, PTAR tercatat membina 53 UMKM khusus di bidang kuliner yang tersebar di 15 desa lingkar tambang, yakni Kecamatan Batang Toru dan Muara Batang Toru.
Jumlah UMKM binaan terbanyak berada di Kelurahan Aek Pining yang dikenal sebagai salah satu sentra kuliner. Pembinaan tersebut tidak hanya diukur dari seberapa banyak peralatan yang diberikan ke pelaku usaha.
Menurut Nurlailah, terdapat sejumlah indikator yang digunakan untuk melihat keberhasilan program. Indikator pertama adalah keberlanjutan usaha. Sebelum dibina, sebagian UMKM hanya berproduksi ketika mendapatkan pesanan.
Bahkan, ada usaha yang aktivitasnya tidak rutin dan terkadang buka, lalu tutup kembali. Setelah mendapatkan pembinaan dan target baru, pelaku UMKM binaan didorong untuk mampu berproduksi secara berkelanjutan.
Hasilnya, sebagian pelaku UMKM binaan kini sudah mampu berproduksi secara rutin karena memiliki semakin banyak mitra dan konsumen yang mengenal produk mereka. Indikator berikutnya adalah peningkatan pendapatan.
PTAR memiliki data pendapatan UMKM binaan sejak awal pembinaan sehingga perkembangan usaha dapat dipantau dan dievaluasi. Jika dilihat dari data pada 2025, UMKM binaan secara keseluruhan omzet-nya mencapai ratusan juta rupiah bahkan miliaran.
Tujuan akhir dari pembinaan tersebut bukan menjadikan PTAR sebagai satu-satunya pasar bagi UMKM binaan. Justru sebaliknya. PTAR ingin pelaku UMKM mampu membangun pasar sendiri dan bertahan secara mandiri.
“PTAR tidak menjadi satu-satunya pasar yang besar, tapi kami dorong lebih ke luar. Karena pada akhirnya nanti PTAR kan akan berhenti beroperasi,” jelasnya.
Pelaku UMKM juga dilibatkan dalam berbagai kompetisi agar mereka memiliki pengalaman, mengenal pasar yang lebih luas dan terbiasa bersaing. Jika mereka punya semangat yang tinggi, Nurlailah yakin pasti bisa bersaing.
Prinsip tersebut menjadi penting karena keberhasilan sebuah program pemberdayaan masyarakat pada akhirnya tidak hanya diukur dari bantuan yang diberikan, tetapi dari kemampuan penerima manfaat untuk terus berkembang ketika pendampingan berkurang.
Tantangan
Di balik berbagai kemajuan tersebut, masih terdapat tantangan yang harus dihadapi pelaku UMKM. Salah satunya adalah pengelolaan keuangan. Nurlailah mengatakan, banyak pelaku UMKM binaan yang masih menggunakan pendapatan usaha untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dalam teori bisnis, kondisi tersebut membuat pembukuan usaha menjadi tidak sehat karena uang hasil penjualan langsung bercampur dengan kebutuhan rumah tangga.
“Berapa dapatnya hari ini, (biasanya) itu untuk kebutuhan hidup hari ini,” ungkap Nurlailah.
Karena itu, PTAR memberikan pelatihan pembukuan sederhana. Pelaku UMKM diajarkan bagaimana mencatat penjualan atau omzet sekaligus mencatat pengeluaran. Namun, penerapannya kembali bergantung pada masing-masing pelaku usaha.
Sebagian sudah mampu menerapkan pembukuan dengan baik. Sebagian lainnya masih mengalami kesulitan, terutama ketika omzet usaha masih kecil.
“Biasanya kendalanya di omzet. Karena omzetnya sedikit, maka pendapatannya juga sedikit dan akhirnya terpakai untuk kebutuhan hidup,” tuturnya.
Hal menarik lainnya, kata Nurlailah, PTAR tidak memberikan dukungan permodalan kepada UMKM binaan dalam bentuk uang tunai. Dukungan lebih banyak diberikan dalam bentuk peralatan dan sarana usaha sesuai kebutuhan.
Misalnya, ketika pelaku UMKM menghadapi persoalan kemasan, PTAR membantu menyediakan atau mendukung kebutuhan tersebut. Secara ideal, dukungan tersebut diharapkan menjadi modal berputar.
Keuntungan yang diperoleh dari penjualan produk seharusnya dapat disisihkan untuk membeli kebutuhan produksi berikutnya. Namun dalam praktiknya, sebagian pelaku UMKM masih menggunakan keuntungan tersebut untuk kebutuhan keluarga.
“Harusnya, dari modal kemasan ini, kalau manajemen keuangannya bagus, untungnya nanti bisa disimpan untuk membeli kemasan pada produksi berikutnya. Tapi yang sering terjadi malah dihabiskan untuk kebutuhan hidup. Sehingga, ketika mau produksi lagi, bingung modal kemasannya dari mana,” urainya.
Meski demikian, pendampingan tetap dilakukan. Melalui pertemuan rutin setiap bulan, PTAR terus mengingatkan dan mengevaluasi perkembangan usaha para pelaku UMKM binaan. Selain peralatan dan pemasaran, PTAR juga memberikan dukungan terhadap dapur produksi.
Hal ini menjadi penting karena dari evaluasi yang dilakukan, masih banyak dapur produksi UMKM yang belum memenuhi standar sanitasi lingkungan.
“Dari 2021 sampai sekarang, sudah banyak dapur produksinya yang di-support PTAR, supaya memenuhi standar sanitasi lingkungan,” tandasnya menutup. (Reza FH)













