Example floating
Example floating
BeritaDaerahSumutTapanuli Selatan

Kisah Parman, Pemburu Insaf Jadi Penjaga Hutan Batang Toru

156
×

Kisah Parman, Pemburu Insaf Jadi Penjaga Hutan Batang Toru

Sebarkan artikel ini
Anggota Tim Patrol saat merekam dan membidik foto satwa yang sedang beraktivitas di area preservasi PTAR
Anggota Tim Patrol saat merekam dan membidik foto satwa yang sedang beraktivitas di area preservasi PTAR. (Foto: Ist)

PIONERNEWS.COM, TAPANULI SELATAN – Dahulu, hutan menjadi tempat berburu bagi Parman Sitanggang. Rusa, kijang, buaya, dan berbagai satwa lain pernah menjadi sasaran kekejamannya. Dulu, tujuan Parman masuk ke hutan hanya untuk mencari hewan yang bisa diburu. Tak ada yang lain.

Tapi sekarang, Parman sudah insaf. Memang, Parman kembali masuk ke hutan Batang Toru. Bukan sebagai pemburu lagi. Parman mencoba menjadi manusia yang lebih baik, dengan bergabung menjadi bagian dari Tim Patrol Area Preservasi PT Agincourt Resources (PTAR).

Meski kembali masuk hutan, pekerjaannya jauh berbeda dari yang dulu. Memang, masih tak jauh-jauh dari jerat. Jika dulu ia mahir memasang jerat untuk menangkap babi, tapi kini jika ia menemukan benda itu, maka langsung dimusnahkannya.

Perubahan itu menjadi salah satu kisah masyarakat yang dilibatkan PTAR dalam upaya konservasi Ekosistem Batang Toru yang dibicarakan dalam Smartabe Connect #3 di Kota Padangsidimpuan, Sabtu (08/08/2026).

Saat memberi kesaksiannya, Parman menyadari bahwa, apa yang dulu dilakukannya adalah kesalahan. Bahkan, kini Parman tak segan melarang teman-temannya yang dahulu sama-sama berburu agar segera menghentikan aktivitas yang dapat merusak Ekosistem Batang Toru itu.

“Kehidupan flora dan fauna itu kan jauh lebih besar nilainya kalau dipikir-pikir bang, daripada kami buat jadi sasaran untuk diburu,” ujar Parman saat diwawancarai awak media.

Dalam Tim Patrol PTAR, Parman tak sendiri. Di area preservasi PTAR, Yayasan Muda Mandiri dan Kreatif (YMMK) juga dipercaya melakukan kegiatan patroli dan monitoring di kawasan yang telah dibebaskan dan ditetapkan sebagai area preservasi.

Anggota Tim Patrol lainnya, Abdi Paruntungan Hasibuan, menceritakan kepada wartawan bahwa, ada sekitar 10 tim patroli di lapangan. Mereka terbagi dalam regu A dan B. Kedua regu bertugas bergantian di empat area. Seminggu bekerja di lapangan, minggu berikutnya beristirahat.

Pola itu membuat kawasan yang luas tetap dapat dipantau secara rutin. Jika orang luar melihat, tugas mereka seolah sederhana. Tapi sebenarnya, tugas mereka jauh lebih berat dari yang dibayangkan.

“Jadi kami harus perhatikan tanda-tanda satwa itu. Baru, kalau ada aktivitas manusia juga kami perhatikan. Perubahan kawasan hutan juga kami amati,” terangnya.

Mereka memonitor kemungkinan adanya perburuan, pembalakan liar, maupun pembakaran hutan. Jerat menjadi salah satu temuan yang paling sering mereka hadapi.

Menurut Abdi yang juga pendiri YMMK itu, sebelum bencana, jerat babi hutan hingga alat untuk memikat burung masih banyak ditemukan. Tapi kini, jumlahnya jauh berkurang. Namun bukan berarti hilang. Setiap jerat masih jadi ancaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *