Example floating
Example floating
BeritaDaerahSumutTapanuli Selatan

Melihat Jejak Sarang Pongo Tapanuliensis dari Kanopi Batang Toru

222
×

Melihat Jejak Sarang Pongo Tapanuliensis dari Kanopi Batang Toru

Sebarkan artikel ini
Dr Suci Utami (paling kanan), ilmuwan biodiversitas dari Unas Jakarta sekaligus bagian dari BAP PTAR bersama tim saat berada di area preservasi Tambang Emas Martabe
Dr Suci Utami (paling kanan), ilmuwan biodiversitas dari Unas Jakarta sekaligus bagian dari BAP PTAR bersama tim saat berada di area preservasi Tambang Emas Martabe. (Foto: Ist)

PIONERNEWS.COM, TAPANULI SELATAN – Tidak semua penghuni hutan mudah dilihat. Di antara pohon yang rapat, lereng yang terjal, bekas longsoran, dan kawasan hutan yang perlahan kembali hijau, seekor Orangutan Tapanuli bisa saja berada beberapa meter di atas kepala manusia.

Ia mungkin tidak menampakkan diri. Mereka juga tidak meninggalkan suara yang mudah dikenali. Hutan, memiliki cara menyimpan jejaknya tersendiri. Ranting-ranting yang disusun menjadi sarang, menjadi salah satu indikator atau petunjuk penting.

Bagi peneliti, susunan ranting itu jadi petunjuk awal untuk mengetahui keberadaan satwa dengan nama ilmiah Pongo Tapanuliensis tersebut. Di Ekosistem Batang Toru, jejak itu kini dicari. Kalau hanya memastikan apakah Orangutan Tapanuli masih ada, itu pekerjaan lumrah seorang peneliti satwa.

Lebih dari itu, mereka ingin mengungkap, bagaimana satwa endemik Ekosistem Batang Toru itu dapat bertahan pasca bencana November 2025 silam, yang mengubah sebagian bentang alam hutan.

Persoalan itu menjadi bahan perbincangan mendalam pada diskusi Smartabe Connect #3 bertema monitoring lingkungan dan pelestarian Ekosistem Batang Toru yang digelar PT Agincourt Resources (PTAR), Sabtu (08/08/2026), di Padangsidimpuan.

Dr Suci Utami, ilmuwan biodiversitas dari Universitas Nasional (Unas) Jakarta sekaligus bagian Biodiversity Action Plan (BAP) PTAR, mengatakan, perubahan populasi Orangutan Tapanuli pasca bencana belum dapat dihitung secara pasti.

Ada dugaan populasinya mengalami penurunan. Namun, dugaan itu belum cukup menjadi kesimpulan ilmiah. Sebab, untuk mengetahui perubahan populasi secara akurat, peneliti harus membandingkan data sebelum dan sesudah bencana dengan metode yang sama.

“Supaya apple to apple,” demikian prinsip yang digunakan Dr Suci bersama tim dalam pengambilan data tersebut.

Sebelum bencana terjadi, sejumlah penelitian telah dilakukan untuk mengetahui keberadaan Orangutan Tapanuli di kawasan Ekosistem Batang Toru. Kini, tim peneliti kembali mengambil data di lokasi yang sama. Namun, pekerjaan itu tidak sederhana.

Jika dilihat dari survei pasca bencana yang sudah dilakukan, sejauh ini memang belum sepenuhnya menggunakan metode line transect atau transek garis sebagaimana penelitian sebelumnya. Pengamatan, masih dilakukan melalui observasi lapangan untuk memastikan keberadaan individu orangutan di lokasi tertentu.

Pemantauan yang lebih sistematis, semula direncanakan berlangsung tahun ini. Namun, kondisi pasca bencana, akses menuju lapangan, dan faktor cuaca, turut mempengaruhi kegiatan tersebut, sehimgga harus ditunda hingga tahun depan.

“Untuk data terbaru tentang populasi Orangutan Tapanuli, masih menunggu proses penelitian,” imbuh Dr Suci kepada wartawan saat diwawancarai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *